Rabu, 26 Februari 2020

DefinisiPertumbuhandanPerkembanganUlumul Qur’an




M. Jarim, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir 6,   Fakultas Ushuluddin, UNIDA Gontor, tahun 2020.

Sebelum kita mengenal lebih jauh kedalam bacaan ini. Disini penulis ingin menjelaskan terlebih dahulu apa saja yang ingin kita bahasa diantara nya yaitu: Definisi dan Perkembangan dan Era baru, Penulisan ilmu.
1.      Definisi dan Perkembangan
Telah kita ketahui bahwasannya Al-Qur’an Al-Karim adalah mukjizat Islam yang abadi, yang tidak ada tandingannya. Yang mana dengan adanya kemajuan pengetahuan (sains) semakin memperkuat dari sisi kemukjizatannya, yang diturunkan oleh Allah Swt kepada nabi muhammad Saw untuk menyelamatkan manusia dari kebodohan menuju keilmuan, serta membimbing mereka kepada kebenaran.
Dahulu, Rasulullah melakukan penafsiran beberapa ayat Al-Qur’an untuk para sahabat. Para sahabat bersemangat mempelajarinya, menghafal, dan memeahami Al-Qur’an dari Rasulullah. Keadaan ini merupakan kebahagiaan dan kemuliaan tersendiri bagi para sahabat. Karena mengapa..? karena seperti mana yang Diriwatkan dari Anas bin Malik ra, ia berkata, “apabila ada seseorang di antara kami yang sudah hafal surah Al-Baqarah dan Ali Imran, maka sungguh ia menjadi orang besar ditengah-tengah kami.” (HR. Ahmad dalam musnadnya.)
Dari sini para sahabat sangat senang dan antusias dalam mengamalkan dan menjaga Al-Qur’an, dan tidak melampaui batasan-batasannya (larangan).
Sungguh Rasulullah tidaklah memberikan izin kepada para sahabat untuk menulis apapun yang keluar dari lisan beliau selain Al-Qur’an, karena dikhawatirkan tercampurnya ayat-ayat Al-Qur’an dengan yang lain.
Akan tetapi kemudian Rasulullah mengizinkan sebagian sahabat untuk menulis hadits, tetapi Al-Qur’an tetap bertumpu pada riwayat melalui penyampaian secara langsung pada masa Rasulullah, juga pada masa kehalifahan Abu Bakar dan Umar bin Khattahab.
Kemudian, pada saat masa kekhalifahan Utsman bin Affan. Pada masa inilah khalifah Utsman mengambil keputusan untuk menyatukan mushaf, dikarenakan beberapa faktor pada saat itu. maka mushaf tersebut dinamakan mushaf Utsma.
Setelah itu, datanglah masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib selanjutnya, Abu Aswad Ad-Du’ai membuat kaidah-kaidah tata bahasa (nahwu) atas perintah khalifah Ali bin Abi Thalib yang bertujuan untuk menjaga kebenaran pengucapan dan memberi harakat pada Al-Qur’an. Dari sinilah banyak ulama yang menganggap sebagai cikal-bakal adanya ilmu i’rab Al-Qur’an.

2.      Era Baru, Penulisan Ilmu
Dari sini banyak sekali ulama ulama yang bermunculan muntuk menyempurnakan pembahasan tentang Al-Qur’an. Era penulisan ini datang pada abad kedua Hijriyah, yang mana dimulai dari penulisan hadist dengan berbagai macam pembahasan, yang mana mencakup pembahasan tentang tafsir Al-Qur’an. Banyak dari ulama mengumpulkan pembahasan penafsiran yang diriwayatkan dari Rasulullah, atau dari sahabat, atau dari tabiin.
Selanjutnya, metode mereka ini ditiru sejumlah oleh para ulama sehingga membuat penafsiran mereka lengkap dan sesuai urutan ayat. Dan salah satu diantara mereka yang terkenal dibidang ini adalah  Ibnu Jarir Ath-Thabari.
Seperti itulah permulaan munculnya ilmu tefsir Al-Qur’an, yang pada pada awalnya dengan cara penukulian melalui penyampaian secara langsung (talaqi) dan riwayat, yang kemudian ditulis (dibukukan) sebagai salah satu bab hadits, kemudian ditulis (dibukukan) secara tersendiri sebagai tafsir Al-Qur’an.
Dan masih banyak lagi proses penulisan terhadap naskh dan ilmu Al-Qur’an lain nya. Dengan metode seperti inilah, Al-Haufi di nilai sebagai orang pertama yang membukukan ilmu-ilmu Al-Qur’an, meski ia menulis disiplin ilmu Al-Qur’an dengan metode khusus seperti yang telah disinggung di atas. Ia wafat pada tahun 330 H.

Refrensi Artikel:
Mabahits fi ‘Ulimu Al-Qur’an, karya Manna’I Al-Qaththan, Maktabah Wahbah,  Kairo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar